Orang Yang Percaya Kepada TUHAN Akan Melihat Kebaikan TUHAN Melalui Kejadian-Kejadian Yang TUHAN Ijinkan Terjadi. Jangan Pernah Menilai TUHAN Hanya Melalui Sepotong Kejadian, Tetapi Percayalah Bahwa DIA Selalu Bekerja Untuk Kebaikan Kita Melalui Banyak Perkara
Photobucket

Saya Benci Orang Kristen


Saya benci orang Kristen, padahal sejak TK , SD , SMP, SMA, saya sekolah di sekolah Khatolik dan Kristen. Jadi saya sangat familiar dengan nama Yesus, Alkitab, Natal, Paskah, dan hal-hal berbau Kristen Khatolik. Latar belakang keluarga saya adalah penganut aliran Buddhis, atau Kong Hu Chu, pokoknya tradisi cina. Buat keluarga saya, nama Yesus itu nggak ada arti apa-apanya. Bahkan cenderung mengganggu. Satu-satunya alasan ortu saya sekolahin saya di situ adalah karena mutu sekolah Kristen Khatolik lebih bagus (katanya). Well, ini relatif. Yang pasti sih uang sekolah lebih mahal.

Waktu SMP, saya ingat teman akrab saya mulai mengajak saya sekolah minggu di sebuah gereja di ketapang. Saya tidak menolak karena:


1. Dia teman baik saya
2. Saya berpikir ke gereja menyenangkan karena bisa belajar nyanyi dan dapat banyak teman. 

 Bagaimanapun saya sendirian di rumah (adik masih kecil) dan tidak ada teman.

Jadilah setiap hari minggu pagi, teman baik saya itu (dengan papa dan mama dan adiknya) menjemput saya dan mengantar saya pulang. Luar biasa bukan? Tapi pada kenyataannya saya jadi membenci gereja dan isinya karena : Anak sekolah minggu tidak ada ramah-ramahnya sama sekali sama saya. Mereka sudah "nge-gank" sendiri dan tidak peduli ada satu "new-comer" yang kebingungan. Saya lebih dikenal sebagai "buntut" nya temen saya. Sungguh tidak menyenangkan! Menurut mereka adalah hal yang "tabu" mendengar ortu saya masih buddha, dan saya merasa terhakimi dengan pandangan mata mereka. (Seolah-olah memiliki ortu bukan kristen itu suatu dosa besar dan memalukan. Hmmm....)

Saya bingung melihat anak sekolah minggu yang katanya belajar firman Tuhan tapi kok malah ngecengin cewek, berisik saat guru sekolah minggu nerangin sesuatu, cuek, berantakan.. .. (image saya tentang gereja cukup tinggi saat itu. Bukankah justru orang di luar gereja punya image lebih tinggi dari penghuninya? ). Jadi saya berpikir untuk apa ke gereja kalau bukan jadi makin baik malah jadi kayak mereka! No way! Mereka tidak lebih baik daripada saya! Ada hak apa mereka berbicara tentang bagaimana seharusnya kita hidup kalau hidup mereka sendiri lebih tidak karuan dibanding saya? (Saya selalu juara kelas dan anak teladan di sekolah. Jadi bisa dimengerti kan standar hidup saya saat itu?)

Pada suatu hari teman saya berkata: "Mengapa ortu mu menyembah patung? Itu kan perbuatan bodoh!" dan untuk suatu alasan yang tidak jelas, saya sangat-sangat tersinggung mendengar ortu saya dikatakan bodoh. Padahal biasanya juga saya tidak perduli dengan patung-patung mereka. Hehehe...

Semenjak itu saya berhenti sekolah minggu dan saya benci orang kristen. Oh, saya tetap bersahabat dengan teman saya itu, tapi saya tidak pernah lagi mau menginjakkan kaki saya di gereja! Gereja menjadi tempat yang paling menyebalkan buat saya!

SMA Yang Penuh Dengan Orang Kristen
Kalau semenjak TK sampai SMP saya ikut sekolah Khatolik, maka SMA saya memutuskan untuk berganti suasana dengan Protestan. Paling tidak saya tidak harus berdoa rosario, begitu pikir saya. Meskipun banyak orang kristen (80%), tetapi herannya tidak ada satu orangpun yang pernah mengabarkan injil kepada saya. Hebat yah? Hehehe... semua penuh toleransi terhadap agama lain, dan paling-paling ada sedikit perdebatan (yang tidak pernah ada konklusi) tentang Kristen dan Khatolik kalau sedang pelajaran agama. Tapi di luar itu, aman. Tidak ada yang pernah memberi tahu saya bahwa hidup adalah bukan hidup tanpa Tuhan Yesus.

Benar-benar tiga tahun saya sekolah, sungguh tidak ada satu orangpun yang mengabari saya injil! Dan saya tidak pernah ke gereja lagi kecuali acara sekolah mengharuskan saya ke gereja. Saya punya alkitab hasil dari dulu sekolah minggu. Itupun saya beli yang paling kecil. Dan penuh dengan coretan bukan karena saya rajin baca allkitab, karena ada ulangan agama! Hahaha...

Saya benci masa SMA saya. Banyak masalah di sini. Persahabatan yang retak karena cowok, tidak ada teman karena untuk mereka saya terlalu "kolot" dan "aneh" dan "kuper" (thanks untuk didikan keluarga Cina yang lumayan tertutup), hidup yang penuh rutinitas. Aduh, nggak ada enak-enaknya deh. Mana ortu saya sangat menjunjung tinggi pendidikan (seperti orang tua chinese pada umumnya) dan menaruh harapan tinggi pada saya. Saya sangat sayang ortu, saya tahu hidup mereka dulu sangat susah, dan mereka selalu memberikan yang terbaik untuk anak. Akibatnya saya jadi stress dan berusaha tidak mengecewakan mereka dengan belajar segiat-giatnya. Saya selalu ranking satu, tapi somehow itu tidak pernah cukup untuk orangtua saya atau saya sendiri. Somehow, saya sungguh tidak tahu untuk apa saya hidup.

"Saulus" Muda
Waktu kuliah, sikap ekstrim saya mulai keluar. Pokoknya setiap ada orang kristen yang cukup "aktif" ngomongin Tuhan, langsung saya babat habis dengan pertanyaan-pertanya an aneh bin ajaib yang mereka tidak bisa jawab. Bahkan terkadang mereka sampai-sampai ikutan bingung dan jadi meragukan kepercayaan mereka. Hehehe... atau saya akan super kritis sama tindakan mereka sehari-hari. Karena menurut saya kalau kamu berani ngomongin kasih, kejujuran, dll itu, kamu juga harus bisa donk hidup seperti yang kamu omongin. Munafik namanya kalo nggak.

Orang Kristen Takut Sama Saya.
Belakangan saya baru tahu pertanyaan-pertanya an ekstrim tersebut muncul dari kerinduan hati saya yang ingin tahu: Tuhan yang mana sih yang bener? Kalo Tuhan-nya orang Kristen yang paling bener (seperti yang mereka bilang), kenapa mereka ditanyain gitu aja nggak bisa jawab? Atau kenapa sikap dan tingkah laku mereka malah lebih bobrok dari kita-kita yang nggak Kristen? Sama aja bohong donk? Ortu saya juga nyembah Buddha, tapi ditanyain apa-apa nggak pernah ngerti! Hahahaha.... Malah mereka lebih punya kasih dan jujur daripada mereka yang ngakunya Kristen (banyak pedagang kristen yang suka nipu ortu saya). Apa bedanya jadi Buddha sama jadi Kristen kalo gitu?

Malah ada satu teman saya yang Kristen dari lahir dan aktif di gereja tapi malah ikut-ikutan nanya-nanya tentang kekristenan dengan nada menuduh dan menghakimi bareng-bareng saya! Hahaha... kocak banget deh. Image saya tentang kristen jadi makin jelek aja. Well, teman-teman sepermainan saya kebanyakan Kristen dan Khatolik. Tapi mereka juga cukup cinta damai. Yah, ada beberapa Kristen KTP di situ, jadi tidak heranlah. Yang bikin saya protes di kemudian hari adalah keberadaan temen saya yang lahir baru tapi tidak pernah menginjili saya! Wah, saya marah-marah sama dia belakangan," Tega lo ya tahu gue mau ke neraka tapi nggak pernah ngomongin Yesus?" (padahal kalo diomongin marah-marah waktu itu. Hehehe....)

Tapi Jalan Tuhan Memang Unik.
Ada satu cowok naksir saya dan dia Kristen. Dia tahu saya bukan Kristen jadi demi boleh berpacaran dengan saya, dia jadi rajin ngasih traktat, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang ekstrim-ekstrim dengan sabar dan kalaupun dia tidak bisa menjawab, saya sangat jengkel dengan ucapannya, "Aku nggak bisa ngejelasin, tapi yang penting aku percayanya seperti itu." Benar-benar menyebalkan. Ego saya membuat saya pingin dia menyerah atas pertanyaan saya, tapi dia nggak tuh! Tapi paling tidak traktat-traktat yang dia kasih saya bacain semuanya. Sampai sekarang masih saya simpan meskipun banyak yang sudah saya kasih orang. Bukan untuk mengingat cowok itu, tapi mengingat jalan Tuhan yang unik dan lucu.

Saat saya kuliah tingkat pertama, ada pelajaran agama. Dan saya memilih Kristen karena orang-orang berkata itu mata pelajaran paling gampang lulus, dan dosen-dosennya murah nilai. Guess what, tugas pertama adalah kami harus mencatat khotbah pak pendeta dari gereja anda masing-masing selama sebulan dan menyerahkannya kepada dosen kami sebagai tugas kulikuler. Tentu saja saya kalang kabut karena saya adalah "penyeludup" dan boro-boro punya gereja! Saya benci gereja! Untunglah teman dekat saya yang kristen mau mengajak saya ke gereja bersama dia. Jadi setiap minggu, papa saya harus saya paksa bangun pagi (karena saya tidak bisa nyetir) untuk mengantar saya ke rumah teman saya itu, dan dari sana kami ke gereja dan harus, tidak bisa tidak, mendengarkan dengan teliti karena kita harus mencatat khotbah! Hah! Take that! Apakah menurut teman-teman Tuhan kita itu tidak iseng?

Tapi Ini Hanya Berlangsung Sebulan.
Suatu kali ada dosen yang dengan ramahnya minta sogokan, kalau tidak sekelas tidak lulus! Jadilah kami mengumpulkan uang untuk dosen itu kecuali beberapa orang kristen "fanatik" dari teman sepermainan saya yaitu cowok yang naksir saya, koko angkat saya, dan satu cewek yang lahir baru (tapi nggak pernah nginjilin saya)! Wah, saya jengkel sekali sama mereka waktu itu! Padahal orang kristen di kelas bukan cuman mereka, kenapa harus mereka yang cari perkara sih? Karena mereka temen sepermainan kami, teman-teman sekelas yang lain juga banyak curhat dan protes sama kita! Apa susahnya bayar Rp 35.000,- doank? Tapi yang jelas mereka tidak mau nyogok meskipun diancam tidak lulus, diancam mencelakakan teman sekelas, meskipun dikucilkan semua orang termasuk orang kristen lainnya. Pendek kata mereka tidak mau nyogok! Dan saya menemukan mereka berdoa bersama di suatu sudut ruangan, dan saat itu entah kenapa saya benci melihat sikap mereka, plus iri karena ada orang kok yang bisa begitu kepala batu akan sesuatu. Saat itu saya mulai berpikir, apakah sungguh-sungguh ada sesuatu yang istimewa dari Yesus ini, ataukah mereka hanya sok jadi pahlawan? Tapi jujur saya tidak suka dikucilkan satu kelas dan dicemooh dikatakan munafik dst. Saya tidak yakin saya bisa berpegang pada moral saya dan tidak ikutan nyogok. Mengapa mereka bisa? (Dan pada akhirnya dosen yang minta sogokan itu dipecat sebelum dia sempat memberikan nilai pada kelas kami. Dosen lain ditugaskan memeriksa ulang ulangan kami, dan bukan saja mereka lulus, tapi nilai mereka malah lebih tinggi dari kami semua yang menyogok!)

Mama saya terkena tumor payudara. Meskipun tidak berat, saya waktu itu cukup ketakutan dan entah karena sudah terbiasa berdoa ala Kristen Khatolik atau karena alasan lain, yang jelas saya berdoa pada Tuhan Yesus sepanjang malam dan operasinya berhasil. Tetapi seperti kebanyakan orang, saya dengan cepat melupakan "jasa" Tuhan dan kembali pada jalan saya semula.

Adik saya yang cewek mulai les fisika, kimia, dsb. Dan berhubung cicinya adalah anak sos yang meskipun dapat 9 untuk biologi tapi sangat benci fisika dan hampir meledakkan lab kimia karena salah mencampur cairan, maka dia mulai les. Dan guru les nya adalah orang kristen yang sangat-sangat-sangat gemar bersaksi tentang Tuhan Yesus. Bisa dibayangkan? Setiap pulang les, dia dengan semangat bercerita tentang keajaiban yang Tuhan buat dalam hidup guru les-nya, yang Tuhan begini lah Tuhan begitulah, anak ABG sangat mudah terpengaruh orang yang dikaguminya, dan nampak jelas dia mengagumi guru les nya itu. Mulailah telinga saya gatal mendengar cerita "kebesaran Tuhan" setiap kali dia pulang les. Anehnya, meskipun saya selalu mencibir dan membantah dan balas mencuci otak adik saya dengan filsafat dunia, diam-diam saya menyimpan dalam hati semua cerita tentang Yesus. Saya mulai tertarik. Sungguh.

Saya Benci Natal
Karena saya selalu kesepian di rumah. Semua teman saya pergi dengan keluarga ke gereja, paling tidak setahun sekali lah bagi mereka yang tidak sungguh-sungguh dalam Tuhan. Termasuk pacar saya. (Oh, bukan dia yang dengan gencar menginjili saya. Saya tidak suka kristen fanatik, yang berusaha mengubah saya jadi kristen sebelum bisa pacaran dengan saya. Jadi saya memilih jadian dengan kristen yang biasa-biasa saja, yang ke gereja setahun sekali, yang tidak punya masalah untuk pacaran dengan orang yang tidak seiman). Dan saya harus tinggal sendiri di rumah. Menyebalkan! Saya selalu merasa terkucil dari lingkungan orang-orang kristen. Terutama hari Natal. Sepertinya ada spanduk besar-besar tertulis, "Khusus untuk orang Kristen! Non Kristen dilarang mendekat!" Saya benci sekali Natal.

Is There Really God Up There?
Sebenarnya sejak SMA saya diam-diam suka menangis di ranjang saya tiap tengah malam. Ada satu rasa kosong di hati saya yang sudah tidak bisa saya tahan lagi. Saya tidak tahu siapa saya, saya tidak tahu bagaimana cara menyenangkan hati ortu saya karena nampaknya tidak peduli sekuat apapun usaha saya, mereka tidak pernah puas. Saya tidak tahu mengapa meskipun saya mengasihi adik-adik saya tapi seringkali kata makian lah yang keluar dari mulut saya.

Apakah benar ada reinkarnasi, apakah benar orang baik pergi ke surga dan orang jahat pergi ke neraka. Saya seharusnya termasuk orang baik. Saya tidak mencuri, tidak membunuh, yah paling bohong kecil-kecilan tapi itu kan wajar? Bohong putih toh tidak melukai orang. Tapi mengapa saya merasa tersiksa dan kesepian?

Tiap malam saya menjerit dan bertanya, Mana sih Tuhan yang bener?? Jawab kek! Berdoa pada Kwan Im, Buddha, bahkan kecil pernah belajar ngaji sama pembantu saya (yang langsung dipecat saat itu juga.. hehehe...), doa rosario, Bapa Kami, berusaha baca Alkitab. Semua saya kerjakan demi mencari "sesuatu" yang hilang dari hati saya itu, tapi tetap dan tetap hati ini kosong. Dan saya putus asa! Dan perasaan putus asa ini keluar menjadi sikap yang skeptis dan menolak kebenaran. Saya membenci apa yang sebenarnya paling saya butuhkan saat itu: Tuhan Yesus.

TUHAN Mulai Menebar Jaringnya!
"Ci, kalau kita bisa mengerti semua pikiran Tuhan, ya kita aja yang jadi Tuhan! Ivon rasa ada beberapa hal yang memang nggak bisa dijelasin pake kata-kata deh...." Perkataan adik saya itu sungguh menusuk dan membuat saya berpikir. Hmmm.. masuk akal. Logika saya termasuk kuat untuk seorang cewek. Hehehe.. saya tidak akan menerima sesuatu yang tidak masuk di akal saya. (Meskipun di sekolah saya terkenal sebagai "Asisten Dukun" karena kemampuan saya meramal dengan kartu, astrologi, dll.) Sekali lihat orang, saya bisa tahu zodiak dia apa, saya bisa tahu cowok atau cewek yang cocok sama dia yang gimana.

Oh, saya tidak punya ilmu. Hanya sedikit memakai akal dan banyak membaca buku untuk "menipu" dan "mempermainkan" temen-teman yang girang sekali kalau saya mulai "menggelar acara meramal"! Dengan begitu saya bisa sedikit populer. Dan ajaibnya banyak orang kristen datang minta diramal sama saya! (Saya waktu itu mencibir dalam hati. Kalian bilang percaya Tuhan tapi percaya juga pada omong kosong saya?) Dan TUHAN tahu masalah logika saya ini. Dan Dia membuktikan bahwa diriNya bukan sekedar ilusi, mistis, atau kepercayaan. God does exist. Dan Dia mulai berbicara.

Sesuatu Tentang Alkitab Yang Tidak Pernah Saya Tahu
Suatu hari adik membawa pulang sebuah buku dengan judul: "Nubuatan Akhir Jaman". Sudah jelas guru les nya yang meminjamkan. Dan beberapa buku lain, tetapi buku itu paling menarik perhatian saya.

Seperti layaknya manusia, kita tertarik dengan hal-hal penuh sensasi. Dan meskipun adik saya belum kristen waktu itu, dia suka mendengar cerita tentang kiamat, akhir jaman, mukjizat, dll. Saya tentu saja pernah mendengar tentang kiamat. Tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengerti karena kalo kiamat bagaimana ada reinkarnasi dan sebangsanya? Pada akhirnya adik saya tidak pernah membaca buku itu. Dia terlalu malas untuk membacanya. Sayalah yang membacanya. Atau lebih tepatnya mengupasnya dan menyelidikinya. Dan saya mulai takjub.

Tidak pernah saya lihat satu buku yang bisa menjelaskan fenomena di dunia ini kecuali buku yang saya baca itu, dengan sumbernya: Alkitab. Segala tentang perang, penyakit, bencana alam, pecahnya negara-negara, terbentuknya PBB, rencana terbentuknya MEE (oh, saya langsung teringat guru ekonomi SMA saya, orang Batak, pernah berkata bahwa akan tiba saatnya dunia bersatu dan antikris akan muncul, tentu saja waktu itu saya mendengarnya sambil setengah tidur karena saya tidak perduli dengan semua itu!), dst dst.

Sore itu juga saya pergi ke toko buku kristen dan membeli alkitab yang paling besar, dan mulai menyelidiki buku tersebut dengan seksama. Buku itu ekstrim. Sungguh. Bagi para pecinta damai, tidak akan suka membaca buku ini. Dengan terang-terangan dan tidak sopannya si pengarang membeberkan perbedaan kristen dengan agama lain. Dia menunjukkan persamaan yang terdapat dalam seluruh agama di dunia, kecuali satu yang tampil beda: Kristen. Sombong sekali bukan?

Anehnya saat itu saya tidak lagi tersinggung. Saya tidak lagi peduli. Saya terlalu haus akan kebenaran untuk tersinggung. Saya terlalu takjub melihat nubuatan dalam Alkitab yang satu demi satu tidak pernah gagal terpenuhi... saya mulai melihat kalau Alkitab pun penuh dengan logika, fakta... Alkitab ternyata berhubungan dengan dunia yang sekarang saya tinggali! Mulai saat itu, pandangan saya tentang kristen berubah.

Tindakan Yang Saya Tidak Pernah Pikir Akan Saya Lakukan
Saya memborong buku renungan! Mulai dari Renungan Harian, Dian Kampus, Imamat Rajani, Rajawali, hampir semua renungan yang ada di toko buku kristen itu saya beli! Dan satu hari saya bisa melahap berlembar-lembar renungan. Saya harus tahu lebih tentang Yesus! Dan saya mulai melahap Alkitab. (Peduli saya mengerti atau tidak, saya hanya merasa dorongan bahwa saya harus membacanya!). Empat pasal sehari. Itu wajib. Ditambah buku renungan yang seabrek-abrek.

Dan sungguh, untuk pertama kalinya, saat saya membaca Alkitab dan firman Tuhan di dalamnya, itu bukan lagi tulisan-tulisan mati yang tidak ada arti untuk saya. Pertama kali saya merasakan ditegur, dinasihati, dihibur, dikuatkan (meskipun saya tidak begitu yakin itu Tuhan atau hanya imajinasi saya) dan terlebih tidak pernah seumur hidup saya, saya menjadi begitu mengerti karakter saya, kejelekan saya, rasa malu saya. Saya mulai mengenal diri sendiri. Saya mulai merasa Tuhan itu benar-benar ada. Dan saya mulai ingin lebih.

Percaya atau tidak, setelah bertahun-tahun, saya akhirnya dengan keinginan sendiri menginjakkan kaki saya ke sebuah gereja di daerah senen. Tidak ada alasan khusus saya memilih gereja itu. Hanya karena "kebetulan" itulah satu-satunya gereja yang saya tahu karena secara "kebetulan" juga selama sebulan saya pergi ke sana untuk mencatat khotbah. TUHAN dahsyat bukan?

Dan demi bisa ke gereja itu, (karena papa saya terlalu malas untuk bangun pagi), saya memberanikan diri untuk menyetir kembali! Dulu saya pernah tabrakan dan sempat trauma sehingga tidak pernah lagi semenjak kecelakaan itu saya pegang setir mobil. Kali ini, demi sesuatu yang pernah saya benci sedemikian rupa, saya duduk di belakang setir mobil dan sepanjang jalan berkomat-kamit meminta perlindungan untuk sampai tujuan dengan selamat! (Adik perempuan saya masih bisa tidur dengan santainya di mobil, sampai mama saya dengan terkejut berseru: "Kamu bisa tidur dalam mobil yang disetir cicimu?" Wah, thanks mam untuk kepercayaanmu! Hahaha....) Oh, tidak pernah saya menyetir sampai daerah senen. Hanya sampai rumah teman saya di sunter, dan dari sana kami naik mobilnya ke senen.

Saya bahkan mulai memaksa teman saya yang suka terlambat itu untuk tidak lagi terlambat. Bahkan kalau dia mulai malas ke gereja, saya yang ngeyel supaya dia pergi, masalahnya dia tumpangan saya. Hehehe.... Teman-teman sekelas bingung karena saya yang dulu suka mengkritik Yesus, mulai dengan semangat (dan dengan pengetahuan ala kadarnya) bercerita tentang Yesus. Paling tidak bercerita tentang apa yang saya dapatkan dari buku renungan yang saya baca. Dan koko angkat saya yang cukup kristen dan cinta Tuhan meskipun juga cinta damai menjadi teman sharing saya.

Adik cowok saya ikut heran, mengapa cicinya jadi sibuk mengurusi Yesus? (Tidak yang cewek. Yang cewek ikut saya ke gereja. Seharusnya sih dia menjadi ko-pilot saya selama menyetir, tetapi seperti yang sudah kita lihat, dia tidur dengan pulasnya. Hmmmm...). Dia nampaknya mewarisi "ilmu antikris dan anti Tuhan" hasil cuci-otak dari saya. Hmmm.. hal yang cukup saya sesalkan kemudian. (Pada akhirnya, setelah 6 bulan penuh doa tangis dan puasa, dia bertobat. Puji Tuhan! Mulai sejak itu saya berhati-hati kalau sharing sama orang, terutama hal yang saya sendiri kurang jelas dan kurang mengerti.)

Orang tua mulai cemas karena nampaknya anak sulungnya ini serius dengan gerejanya. Wah, bagaimana kalau nanti kita mati dan tidak ada yang sembahyangin kita? Tapi merekapun tidak bisa mencegah saya ke gereja! Saya masih belum percaya saya melakukan semua itu untuk Yesus!

TUHAN Mengguncang : Mei 1998
Semua masih ingat tentunya bulan tragis ini. Saya tidak akan pernah lupa. 12 Mei 1998, saya terkurung di kampus Untar, dan menyaksikan dengan mata sendiri tentara kita baku hantam dengan mahasiswa Trisakti. Bahkan banyak mahasiswa Trisakti yang berilndung di kampus Untar. Saya melihat seseorang yang nampaknya tertembak dan dibawa masuk klinik Untar. Saya merasakan pedihnya gas air mata (padahal itu asli hanya sisa-sisa gas air mata) dan tidak bisa membayangkan bagaimana pedihnya kalau itu bukan sisa-sisa! Untuk pertama kalinya saya, di lantai 8 kampus saya, berdoa dengan orang-orang kristen yang lain. Tentu saja saya paling bodoh sendiri karena tidak tahu apa yang harus saya doakan di sana. Yang saya tahu saya tidak terlalu takut karena pikir saya: mati toh barengan. Hehehe...

Waktu itu koko angkat saya memberi saya Mazmur 91. "Kalau kamu takut, baca saja pasal ini." Pacar saya tidak banyak berbicara. Dan dia juga nampaknya tidak terlalu tahu bagaimana harus berdoa. (belakangan saya tahu meskipun dia kristen sejak lahir tapi tidak pernah sungguh-sungguh mengenal Tuhan). Dan pada akhirnya, tgl 15 Mei, kekacauan massal. Toko orang tua saya di daerah mangga dua dibakar massa. Tidak ada yang tersisa. Dan untuk pertama kalinya saya melihat orangtua saya menangis di depan anak-anak. Saat itu, baru saya mulai takut.

Terlebih dengan adanya berita-berita pemerkosaan, pembunuhan, perampokan. Orangtua saya dan kakek nenek saya nampaknya punya trauma yang lebih lagi karena mereka melewati cukup banyak waktu di mana peristiwa seperti ini bahkan mereka alami secara pribadi. Karena itu mereka mulai bersiap-siap mengungsi. Kami tidur satu kamar bertumpuk-tumpuk, saya tidur membawa gunting (yang saya pikir-pikir lagi agak-agak bodoh karena apa gunanya gunting kecil dibanding massa kalau mereka menyerbu masuk rumah coba?)

Keluarga kami mengungsi dari Kelapa Gading ke Pulo Mas (sementara orang-orang Pulo Mas mengungsi ke Kelapa Gading! Hahaha....). Untuk pertama kalinya saya sadar: tidak ada tempat yang aman. Yang bikin saya sangat stress adalah saat mama saya setengah menangis menjejalkan segepok uang ke dalam kantung baju saya dan memerintahkan saya membawa kedua adik saya mengungsi ke Singapore besok, dengan pesan, "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan papi dan mami, kamu jaga adik-adik kamu yah?"

Betapa saya benci jadi anak sulung! Bagaimana mungkin saya bisa menjaga kedua adik saya? Saya belum lulus kuliah! Apa yang bisa saya lakukan untuk menjaga mereka? Tapi saya tidak ingin menambah stress mama saya sehingga saya hanya mengangguk. Mereka menolak pergi ke Singapore. Mereka menyuruh kakek nenek saya yang menemani kami. Saat itu dunia benar-benar gelap dan error. Saya dan kedua adik saya membaca Mazmur 91 setiap malam dan meskipun itu menenangkan tapi tetap saya cukup stress dengan tanggung jawab yang tiba-tiba saja harus saya emban. Dan saya tidak suka menerima kenyataan bahwa ortu saya tidak akan pergi bersama saya! Sampai satu hari sebelum ke Singapore, entah bagaimana kakek saya nyolong-nyolong keluar dengan mobilnya dan melihat-lihat daerah kelapa gading. Dan pulang-pulang dia membawa sepucuk surat untuk saya.

Saya lupa itu kartu ucapan apa, tapi yang saya ingat, teman yang mengirimkannya menyelipkan satu pembatas buku dengan ayat Alkitab yang menjadi salah satu favorit saya sampai sekarang: "I can do all things through Him who strengthen me." (Phil 4:13) Dan saat itu untuk pertama kalinya saya mendengar suara Tuhan (bukan audible) dalam hati, "Pergilah ke Singapure. Aku menyertaimu. Jangan takut." Dan segera perasaan tenang menguasai saya. Saya masih cemas, tapi saya tidak lagi stress. Dan tidak pernah lagi saya meragukan bahwa Tuhan itu hidup!

Dikurung di Singapure
Kami berangkat. Bawaan saya yang terpenting adalah Alkitab, dan sebuah buku renungan inggris dengan judul: Everyday with Jesus 365 days. Dan di flat yang disewakan dengan murah oleh teman papa kami di Singapore , saya setiap hari mulai belajar berdoa dan membaca renungan tsb. Saat itu pikiran saya kacau. Saya tidak mengerti bagaimana Tuhan yang mulai saya percayai adalah Tuhan yang baik, yang adil, dst bisa-bisanya membiarkan perkara ini terjadi. Saya punya banyak pertanyaan yang bahkan saya sendiri tidak tahu bagaimana harus menanyakannya! Dan TUHAN berbicara lewat buku renungan itu.

Buku renungan yang saya beli hanya karena gambar depannya bagus dan terhitung murah untuk buku import, dan tidak pernah saya baca sebelumnya. Dan saya, entah bagaimana, mulai melihat kasih dan keadilan TUHAN, bahkan lewat peristiwa yang mengerikan itu. Saya mulai mengenal Tuhan dengan lebih dalam. Dan saat itu saya sepenuhnya yakin, tidak ada jalan di luar Yesus. Tidak ada hidup di luar Yesus. Tidak ada pengharapan di luar Yesus. Tidak ada sukacita di luar Yesus. Tidak ada damai di luar Yesus. Di luar Yesus, tidak ada apapun. Di sana, di singapure, di sebuah kamar flat yang sempit, saat kedua adik saya tertidur dengan pulas, saya menemukan Kekasih Jiwa saya. Jaring TUHAN mendapatkan ikanNya.

Iman Coba-Coba
Tiba saatnya untuk pulang! Tapi masalahnya sekarang, bukan hanya kami berlima yang ingin pulang. Begitu banyak orang indo yang ngungsi yang juga ingin pulang! Dan kami harus menunggu. Dan adik-adik mulai ribut karena mereka akan ketinggalan ujian kalau tidak pulang! Hari itu, kakek saya menolak untuk ke airport. Toh kita juga waiting list. Tidak akan dapat tiket lah! Saya dengan sebal memandang dia karena dia naik pesawat lain dengan kita, dan tiket dia sudah konfirm. Akhirnya kami berhasil memaksa dia untuk mengantar kami ke airport. Dan 60 orang lebih menunggu di waiting list untuk mendapatkan kursi.

Kami telah berdoa dengan iman ala kadarnya supaya Tuhan memberi kami tiket. Hei, bagaimanapun Alkitab mengatakan iman sebiji sesawi sudah cukup! (Saat di ruang tunggu itu saya mulai ragu apakah iman saya lebih kecil dari biji sesawi! Hahhaa...) Saat pengurus loket memanggil nama-nama yang berhasil mendapatkan tiket, dengan kecewa kami harus mendapati kenyataan bahwa kami tidak pulang hari itu. Kakek nenek saya dengan segera memberesi koper-koper dan bersiap pulang. Adik cowok saya mencibir dan meskipun dia cukup sopan untuk tidak menghina terang-terangan, saya tahu dia merasa bodoh telah berdoa beberapa hari ini. (Dia ikut berdoa juga. Belakangan setelah bertobat saya baru tahu bahwa saat dia mencibir itu dia menguji Tuhan: "Kalau Engkau beneran ada, kalau kita dapet tiket, aku bakal jadi kristen!" Tentu saja, dia segera lupa akan "jasa" Tuhan itu.)

Tinggal saya dan adik perempuan saya, yang tidak rela meninggalkan lapangan. Saat itu adik saya menggenggam tangan saya erat-erat dan berkata:"Berdoa lagi ci!" Oh? Oke. Toh tidak ada ruginya. Dan dengan takjub saya mendengar petugas loket memanggil nama nenek saya! (yang pada saat itu sudah mencapai pintu keluar) "Maaf, ada kekeliruan. Empat tiket terakhir ini untuk kalian." Can you believe that? Adik saya melompat dan berseru memanggil nenek saya yang dengan tergopoh-gopoh kembali dengan kopornya. Empat tiket terakhir.... Dan entah kekeliruan apa yang dia maksud, tapi yang jelas nama kami tadinya tidak tercantum di sana . Kami semua pulang hari itu!

"Saulus" Itu Telah Menjadi Paulus
Oh, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mencoba membandingkan diri saya dengan Paulus. Tapi beberapa teman saya terkadang bergurau dengan mengatakan," Dulu lu kayak Saulus, kok sekarang jadi Paulus sih?" dan Puji Tuhan, mereka benar. Saya melihat hidup saya diubahkan Tuhan. Sama seperti Ia mengubah hidup Saulus menjadi Paulus.

Kekosongan di hati saya telah lenyap. Ada Tuhan Yesus di sana. Tidak ada keraguan bahwa Ia lah Tuhan. Dan semenjak dari Singapore, tidak ada satu hari saya tidak bercerita tentang Yesus pada teman-teman saya di kampus dan bahkan dengan berani sedikit memaksa mereka yang beragama lain untuk percaya pada Tuhan saya! Saya mulai mengerti meskipun orang kristen tidak sempurna, mengecewakan, terkadang lebih parah daripada orang yang tidak kenal Tuhan, tetapi TUHAN nya orang Kristen itu sempurna. Tuhan Yesus sempurna.

Dan orang-orang kristen tidak lebih dari para pembunuh, pemerkosa, pencuri, anak bandel, broken home, dan bandit-bandit dan pendosa-pendosa lain yang menerima kasih karunia TUHAN. Saya belajar butuh waktu bagi seseorang untuk berubah, termasuk saya. Saya belajar untuk mengasihi dan mengampuni. Saya mulai mengerti kerinduan yang membakar orang-orang kristen "fanatik" yang dulu mencekoki saya dengan injil meskipun sudah saya usir-usir, dan saya lebih berterimakasih pada mereka sekarang. Bahkan saya telah menjadi jenis orang yang dulu paling saya benci! Hahahaa... Pacar saya protes karena pembicaraan saya sangat-sangat "tidak duniawi" dan dia berkata dia lebih suka saya yang dulu. Dia tidak bisa mengerti mengapa dia kristen dan saya kristen tapi dia tidak se"fanatik" saya? Well, saya juga tidak mengerti. Singkat cerita saja, kita bubar.

Saya percaya manusia lama saya sudah berlalu, dan yang baru di dalam Yesus telah datang. Kalau dia lebih menyukai manusia lama saya, sayang sekali. Manusia lama saya tidak akan bangkit lagi! Jadi sebaiknya dia mencari cewek lain saja. Bubarnya tidak setega dan semudah kalimat saya di sini. Tapi kita akan bersaksi masalah "pacar VS pasangan hidup" di lain kesempatan.

Saat ini saya hanya hendak mengakhiri kesaksian saya dengan mengucap syukur, bahwa Tuhan tidak pernah berhenti membentuk saya semenjak saya lahir baru. Saya dan adik saya yang perempuan dibabtis selam berbarengan. Dan meskipun saat saya melihat kolam pembabtisan yang terpikirkan hanyalah jangan sampai menelan air (dan sama sekali bukan hal-hal rohani seperti rasa terharu diselamatkan, dst), tapi saya tidak akan lupa hari itu. Saya bersyukur bahwa sejelek apapun saya, kasih Tuhan sanggup menerima saya. Saya, yang ditolak manusia, diterima oleh TUHAN!! Saya, yang sering minder dan berpikir diri tidak ada harganya, dihargai seharga nyawa Tuhan sendiri! What an amazing grace, huh?

Saya bisa melihat diri saya 2 tahun lalu dan berkata, "Oh Tuhan! Bagaimana Kau bisa sabar menghadapi karakter saya?" Bahkan jika dibandingkan dengan saya 2 bulan lalu, saya tetap akan mengatakan hal yang sama. TUHAN terus berkarya dalam hidup saya. Dia sungguh tidak pernah melepaskan mataNya dari kita. Bahkan saat saya ke gereja, tanganNya lah yang menuntut dan memilihkan untuk saya. Juga kepergian saya ke Taiwan. Dan banyak hal lainnya. Saya akan menghabiskan lebih banyak waktu kalian kalau saya menceritakan bukti kasihNya dalam hidup saya! (tapi saya yakin kalian punya pengalaman berharga sendiri dengan Tuhan kita)

Saya ada sekarang ini, dan saya hidup, karena Yesus hidup.


And hallelujah to that.

I just love you so much I just can't get enough Lord, I want more of You in my life al the time Your love touches my heart And I knew from the start That I want more of You in my life al the time. And Jesus, every tick of time Is the time to be with You There is nothing else, nothing else I'd rather do Every single day, ever since that I met You I have found a love that is always be true (Hillsongs)

I love you, Jesus. Thank You for loving me first (and still does!).

Idawati.

sumber: rumah renungan



READ MORE - Saya Benci Orang Kristen


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

Dalam Iman Ada Mujizat



By. RW Schambach

Kami mendirikan tenda di Sacramento, California dan bersiap menyelenggarakan kebaktian siang. Seorang wanita membawa anaknya yang juling untuk di doakan. Saya melihatnya menangis di belakang maka saya menghampirinya dan berkata, “Ada masalah apa?”

“Oh”, ia berkata,”Saya membawa putri saya yang juling sejak lahir. Saya datang dari San Fransisco untuk mendapatkan kartu doa tetapi anda tidak menyelenggarakan kebaktian di sana. Saya telah melakukan perjalanan ratusan mil. Apa yang harus saya lakukan? Saya tahu jika saya membawanya ke tenda kebaktian, matanya akan sembuh.”

Saya bertanya, “Dimana putri anda?”

Ibu itu terisak-isak, membungkuk ke arah gadis kecil di dekatnya. “Ini dia.” Saya berlutut dan memandang tepat di wajah gadis itu dan melihat 2 buah matanya yang normal.

Saya berkata’” Anda yakin bahwa ini putri anda?”

“Tentu saja saya mengenal putri saya sendiri,” Jawabnya.

Saya berkata, “Menurut anda matanya juling.”

Ibu itu berlutut dan memandang kedua mata putrinya.

Tak seorangpun menumpangkan tangan. Ia tidak membutuhkan selembar kartu doapun. Ia memeluknya erat-erat dan berlari keluar tenda. Tuhan telah menunjukkan mukjizatNya. Kapankah Tuhan melakukannya? Allah melakukannya ketika ibu itu menyatakan imannya. Saya mendengarnya berkata,” Saya tahu bahwa jika saya membawa gadis itu ke dalam tenda…” Saya percaya pada saat itulah bahwa pada saat ia melangkah ke dalam tenda, mata yang juling itu menjadi normal karena TUHAN menghormati imannya.

Diterjemahkan dari buku : MIRACLES


READ MORE - Dalam Iman Ada Mujizat


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

PIKIRAN YANG SELARAS DENGAN KRISTUS

 Filipi 2:1-11

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”
(Filipi 2:5)
  
Pikiran memiliki kekuatan yang luar biasa sekali. kalau kita mengubah pemikiran kita, hal itu dapat mengubah kehidupan kita. Itulah kekuatan pikiran. Keadaan kita dimasa depan bisa ditentukan oleh pemikiran kita saat ini. Pemikiran akan mempengaruhi semua yang kita lakukan.
Orang yang tidak menyadari  kekuatan dari pikiran, seringkalii pikirannya dipenuhi dengan hal-hal yang membuat dirinya lemah dan tidak berdaya. Seperti ketakutan, kekuatiran, keragu-raguan, sakit hati serta hal-hatl negatif lain sealu memenuhi pikirannya. Akibatnya mereka sering jatuh bangun di dalam dosa. Tapi ada orang yang memiliki kehidupan selalu berkemenangan dan menjadi sumber inspirasi kita meski berada dalam situasi-situasi sulit.
Bagaimana supaya kita memiliki pikiran yang berisi hal-hal positif dan berkenan kepada Tuhan? Bagaimana supaya kita dapat berpikir sebagaimana Tuhan berpikir? Mungkinkah? Sesungguhnya, kita dapat melakukannya!
Firman Tuhan  tidak mengatakan bahwa kita sempurna atau bahwa kita tidak akan pernah gagal. Dia memberitahu kita, sebagai orang percaya dalam Yesus, Anak Allah, kita diberi pikiran Kristus (1 Korintus 2:16). Artinya, kita bisa memiliki pikiran rohani karena Kristus hidup di dalam diri kita. Kita tidak lagi berpikir dengan cara yang dulu pernah kita lakukan. Kita bisa mulai berpikir seperti yang Dia lakukan. Tuhan Yesus telah membuat rancangan bagi kita agar kita memiliki hidup yang berkemenangan dengan cara menaruh pikiranNya sendiri di dalam diri kita. Tuhan adalah Pribadi yang positif, maka bila kita berpikir sesuai dengan pemikiran Kristus, semua yang kita pikirkan adalah hal-hal yang positif, bukan negatif. Selain itu, pikiran Kristus diberikan kepada kita juga untuk mengarahkan kita kepada jalan yang benar. Jika kita memiliki pikiran-Nya, kita akan berpikir rohani.

Kapan pun kita berpikiran negatif, itu berarti pikiran kita sedang tidak selaras dengan pikiran Kristus.


READ MORE - PIKIRAN YANG SELARAS DENGAN KRISTUS


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA

Galatia 5:1
 “Supaya kita sungguh-sungguh  merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.”


“…Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih dikandung badan. Kita tetap setia, tetap setia mempertahankan Indonesia …..”
Lagu ini terdengar berkumandang di seluruh pelosok negeri Indonesia, karena pada tanggal 17 Agustus ini bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. 17 Agustus merupakan hari yang sangat bersejarah dan sangat berarti, di mana  setelah sekian lama bangsa Indonesia hidup dalam penderitaan karena penjajahan, akhirnya bisa menikmati kebebasan atau kemerdekaan yang telah kita nikmati sampai saat ini yang patut kita syukuri dan peringati.
Firman  Tuhan  hari  ini  (Galatia 5:1), mengingatkan bahwa kitapun sebagai orang Kristen sudah dimerdekakan di dalam Kristus dari hukum dosa dan maut.
Roma 8:1-2 berkata: ”…. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut”  Ini berarti, jika Kristus tidak memerdekakan kita, maka kita harus menanggung hukuman atas dosa atau maut. Maukah kita menanggung hukuman tersebut?  Tentu, tidak !
Yesus pun tidak menginginkan anak-anak-Nya menerima hukuman tersebut karena Dia sangat mengasihi kita sebab itu Ia rela mati untuk kita dan kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah (Roma 6:10). Jadi kebenarannya ialah, kita semua sudah dimerdekakan dari dosa oleh Kristus satu kali untuk selamanya.  Tapi mengapa banyak orang Kristen masih hidup didalam Dosa bahkan sangat gemar melakukan dosa? Dalam firman Tuhan ini Paulus pun mengingatkan kepada jemaat Galatia bahkan kepada kita supaya kita yang telah dimerdekakan tidak membiarkan dosa berkuasa lagi di dalam tubuh kita bahkan tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi menyerahkan diri dan anggota tubuh kita kepada Allah untuk menjadi senjata kebenaran. Oleh karena itu, “berdirilah teguh pada kebenaran dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Beranilah berkata “TIDAK” terhadap “DOSA” karena “SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA”. (diana)


READ MORE - SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

KEKUATAN DOA



Aku dan suamiku merasa letih pada hari Natal itu. Sebagai dosen, kami telah menyerahkan nilai-nilai semester sebelumnya pada musim gugur. Kami segera menyiapkan beberapa kopor dan mengajak anak-anak untuk mengadakan perjalanan ke rumah kakek dan nenek mereka di California. Suamiku, David, tergores jarinya ketika menutup kopor. Jarinya tak berdarah dan ia pun tak menghiraukannya. Ketika kami akan berangkat, ayahku menelepon dan mengatakan bahwa ibunya atau nenekku baru saja meninggal dunia. Pemakamannya segera setelah hari Natal.

Pada malam Natal, David mengatakan bahwa dia merasa sakit di bawah lengannya. Tetapi ia berpikir bahwa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Selanjutnya, kami berkumpul dan membuka sumbangan simpati bersama anak-anak kami dan orang-orang yang datang pada acara pemakaman. Tiba-tiba, David gemetar dan harus berbaring ketika hadiah terakhir dibuka. Dua hari berikutnya, David memburuk. Badannya terasa sakit, terutama lengannya. Ia hampir tidak dapat menahan rasa sakitnya dan akhirnya muntah-muntah. Aku menelpon dokter kami di Utah. Menurut dokter, David mungkin terserang influenza. Pada Selasa pagi, aku merasa bahwa David bisa ditinggalkan selama satu jam. Kami pergi ke gereja untuk pemakaman nenek. Lagipula, aku ikut berbicara pada acara pemakaman itu. David bisa mengurus dirinya untuk beberapa saat.

Acara pemakaman itu bisa menjadi reuni yang hangat dengan saudara-saudaraku. Aku adalah cucu perempuan yang paling tua sehingga aku berbicara mewakili semua cucu perempuan. Nenek meninggal dunia pada usia 94 tahun. Menurutku, ia mempunyai hidup yang panjang dan produktif. Para wanita dari keluarga Waite adalah pribadi-pribadi yang kuat. Ketika aku duduk, seorang tetangga memberiku sebuah kertas berisi pesan singkat yang dikirim oleh gereja bahwa suamiku telah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Ketika aku tiba di rumah sakit, aku mendapatkan David di ambang kematian. Ia hampir tidak sadar. Tetapi ia cukup sadar untuk merasakan sakit yang hebat. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia mengatakan kepadaku bahwa badannya mulai membeku beberapa saat setelah kami meninggalkannya. Ia merasakan ada suara yang memperingatkannya, “Anda memerlukan ambulans sekarang.” Setelah mendengarkannya beberapa kali, ia merangkak ke telepon dan memutar 911. Operator berusaha agar David tetap sadar dan berbicara. Tetapi David akhirnya meletakkan telepon. Ia merangkak ke pintu depan dan membuka kuncinya. Kemudian, ia berbaring di sofa. Paramedis menemukannya dalam keadaan hampir tidak sadar dengan denyut nadi yang tak dapat dideteksi. Akhirnya, mereka melarikannya ke rumah sakit.

Beberapa tes dilakukan, termasuk di dalamnya tes dengan sinar X dan USG. Para dokter bingung karena mereka tak dapat mendiagnosis masalahnya. Ketika selesai menjalankan pemeriksaan MRI, ia memperlihatkan suatu tanda berwarna hitam keunguan di salah satu sisi badannya. “Apakah ia mabuk di jalan kecil semalam? Apakah seseorang menendangnya?” mereka bertanya. Aku meyakinkan mereka bahwa itu bukan penyebabnya. Para dokter memanggilku setelah mereka berdiskusi selama beberapa menit lagi.

“Kami rasa, kami tahu penyebabnya. Ini mungkin “necrotizing fasciitis”, atau lebih dikenal sebagai bakteri pemakan daging. Apakah Anda pernah mendengarnya?”

“Tidak”, jawabku.

“Ini adalah bakteri yang mematikan. Kami akan mengoperasinya dan membedahnya dari pergelangan tangan ke paha. Ini untuk mendeteksi jaringan yang terinfeksi. Penyakit ini sangat jarang terjadi. Bakterinya mungkin masuk ke dalam tubuhnya lewat luka. Apakah ia pernah mengalami luka di jari atau lengannya akhir-akhir ini?”

“Jarinya luka terkena resleting ketika ia menutup kopor, hanya itu.”

“Ini bakteri biasa, tetapi badan kita seharusnya bisa melakukan perlawanan. Karena sesuatu hal, bakteri ini telah menyerang suamimu. Ia mempunyai kesempatan hidup 5 - 10% untuk melewatinya. Penyakitnya sangat parah. Ia akan tampak seperti digigit ikan hiu setelah kami selesai membedahnya.”

Aku tahu bahwa persentase kesempatan hidup itu adalah cara lain untuk mengatakan bahwa suamiku mungkin akan meninggal. “Menurutku, kesempatan hidup 10% itu tetap berharga. Marilah kita mempertahankan hidupnya. Marilah kita menyelamatkannya,” jawabku. Semua anak kami masuk ke dalam ruangan untuk mendoakan kesembuhan bagi ayah mereka. Di serambi rumah sakit, para perawat membawakan kursi dan jus buat kami agar kami tidak pingsan. Kami semua kaget karena David kelihatan dalam keadaan sehat. Ternyata, ia di ambang maut karena suatu penyakit yang amat berbahaya. Saat itu, dia dalam keadaan setengah sadar. Sebelum dioperasi, aku membisikkan sesuatu kepadanya, “Pilihlah hidup, David. Pilihlah hidup.”

Aku juga tahu bagaimana cara memperbesar kemungkinan. Aku mengumpulkan keluargaku di ruang tunggu kamar operasi. Kebetulan, ruang tunggu itu kosong. Kami segera berlutut dan berdoa bersama. Aku berkata, “Bapa kami yang di surga, dokter-dokter tidak tahu apa yang diderita David, tetapi Kau tahu. Mereka tak tahu bagaimana menyembuhkannya, tetapi Kau tahu. Berkatilah mereka sehingga mereka tahu bagaimana menyelamatkan tubuh David. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi.” Kalimat yang terakhir ini sulit diucapkan. Tetapi itu harus kuucapkan karena aku tidak boleh memerintah Tuhan.

Kemudian, aku masuk ke sebuah ruang kantor yang dikosongkan. Atas izin rumah sakit, aku melakukan telepon jarak jauh ke beberapa orang, yakni orang tua David, pendeta jemaat gereja kami, teman baikku Beth, dan kepala bagian bahasa Inggris universitas. Aku memohon agar mereka menelpon orang-orang yang kami kenal dan meminta orang-orang tersebut agar berdoa bagi David: “Dua jam setelah ini sangat menentukan hidup suamiku. Tolong doakan dia. Aku percaya akan mukjijat dan kuasa doa.” Hari itu, ratusan teman kami sedang berdoa untuk David.

Para dokter ahli bedah muncul beberapa jam berikutnya dengan membawa berita baik. Ternyata, bakteri belum menyebar seperti yang mereka duga sebelumnya. Dan, David tetap hidup. Kami bersorak dan merasa seakan-akan doa-doa kami telah terjawab. Tetapi David masih dalam keadaan sangat sakit dan tetap berada di ambang kematian. Saat itu, ada sebuah tim yang beranggotakan dua belas dokter. Mereka mempunyai spesialisasi yang berlainan. Mereka memberitahu kami bahwa bakteri strep A sedang menggerogoti kulit David serta lapisan-lapisan jaringan dan otot. Infeksinya menjalar dengan kecepatan satu inci per jam. Dokter-dokter melakukan operasi besar setiap hari. Mereka memotong jaringan yang mati atau yang terinfeksi. David diletakkan di dalam ruang “hyperbaric” selama beberapa jam setiap hari. Ruang ini bertekanan dan mempunyai daya gravitasi lebih berat daripada yang ada dalam sistem tubuh. Ruang ini diisi penuh dengan 100% zat asam. Tekanannya dinaikkan agar zat asam dapat langsung masuk ke dalam sel-selnya. David bertahan hidup dua hari lagi.

Ternyata keadaannya tidak mengalami kemajuan. Ahli bedah utama berbicara kepadaku secara jujur. “Aku mempunyai perasaan tak enak mengenai hal ini,” katanya memperingatkan. “Menurutku, bakteri-bakteri itu telah menjalar ke leher dan jantungnya.” Aku pulang dengan keyakinan bahwa kematian David akan segera tiba. Aku harus berpikir untuk merelakan kepergiannya. Sepanjang malam itu, aku mencoba berdoa untuk kehidupan David. Aku juga mencoba untuk keluar dari kegelapan yang menyelumutiku. Setelah itu, aku kembali ke rumah sakit. Aku siap untuk mengucapkan selamat jalan kepada David bila itu yang dikehendaki Tuhan. Tapi aku kaget ketika mendengar berita dari ahli bedah bahwa keadaan David berubah menjadi lebih baik. Badannya mulai bisa memerangi bakteri.

Siang itu, ahli bedah memberitahuku bahwa ia mendatangkan seseorang untuk mengamputasi lengan David. David telah kehilangan sebagian besar kulit dan ototnya. “Tetapi, David seorang pemain piano,” Aku memprotes. “Bila Anda ada di ruang bedah, mohon diingat bahwa David adalah seorang pemain piano.” Di rumah, kami memutuskan untuk berdoa, terutama untuk lengannya. Terus terang, aku belum pernah berdoa untuk suatu bagian tubuh tertentu. Setiap hari selama seminggu, para ahli bedah datang dan mereka bersiap utnuk mengamputasi lengannya. Namun, mereka memutuskan untuk membiarkannya karena lengan itu masih mempunyai beberapa jaringan yang sehat. Meskipun demikian, penyakit ini telah menggores urat saraf utama. Kalaupun tidak diamputasi, para dokter memprediksi bahwa lengan David akan lemah.

Beberapa hari kemudian, David dapat menggerakkan jari dan tangannya. “Nah, kelihatannya Anda dapat menggerakannya, tetapi bermain piano masih diragukan. Anda pun harus melupakan untuk bermain tenis“, ahli bedah mengatakan kepadanya. “ “Lagipula, andaikata Anda tiba di lapangan tenis, Anda akan bermain seperti orang yang sudah tua.” David penuh semangat karena telah mendapatkan hidupnya kembali. Ia segera menantang ahli bedah untuk bermain tenis bila ia sudah sembuh.

David hidup. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, ia kehilangan hampir 50% dari kulit di bagian atas tubuhnya. Para dokter mengganti kulit itu dengan cangkokan kulit yang diambil dari pahanya sampai tertutup oleh kulit yang baru. Akhirnya, ia meninggalkan rumah sakit dan pulang dengan perayaan besar. Ketika kami tinggal berdua, aku dan David saling memandang dan memutuskan untuk mencoba bermain piano di rumah. Menurutku, bila iadapat bermain beberapa nada, aku akan menganggap itu sebagai suatu keberhasilan. Dengan kekhawatiran, David meletakkan kedua tangannya di deretan tuts piano. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah jari-jarinya dapat bekerja? Apakah ketrampilannya hilang untuk selamanya? Aku menahan nafas. David mulai bermain. Secara luar biasa ia masih dapat memainkan piano dengan sangat indah. Ia menggubah sebuah karya musik saat itu.

Tetapi itu bukan akhir dari kemajuan David. Dari Natal itu sampai ke Natal berikutnya, David menjalani terapi fisik untuk mengembalikan kelenturan di dada, punggung, dan lengannya. Ketika Natal berikutnya hampir tiba, kami memutuskan untuk mengunjungi orang tuaku di masa liburan. Ini untuk membuktikan kepada mereka bahwa kami dapat berlibur tanpa tanpa seorang pun yang sakit atau masuk rumah sakit. Dengan semangat tinggi, David menelpon ahli bedahnya dan mengingatkannya tentang tantangan untuk bermain tenis. Si ahli bedah senang mendengarkan tantangannya. Pada malam Natal, David dan dokternya bertemu di sebuah lapangan tenis. Mereka bermain ganda melawan sepasang dokter lainnya. Ahli bedahnya bersorak setiap kali David memukul bola. Ia memanggil dokter-dokter lain ke jaring net untuk memperlihatkan bekas-bekas dan cangkokan kulit di sekujur tubuhnya. Pada akhir permainan, David dan ahli bedahnya menang 40-0.

Meskipun tahun itu merupakan tahun yang sangat sulit bagi kami, masa itu merupakan masa yang kudus. Keluarga kami mengalami tiga mukjijat melalui cinta dan doa-doa ratusan orang di sekeliling kami. David hidup, ia tetap mempunyai kedua lengannya, serat ia dapat bermain tenis dan memainkan sonata-sonata Beethoven.

Aku mendapati bahwa sebagian besar doa permohonanku telah berubah menjadi doa ucapan syukur.

Kiriman: Lanita Winata
Diambil dari “KISAH” Edisi 49, 10 Desember 2007

Sumber : Reflecta
READ MORE - KEKUATAN DOA


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

PENOLONG DAN PERISAI KITA

Mazmur 33:16-22

"Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan."
Mazmur 33:1



Menjadi seorang pemimpin adalah kerinduan setiap orang, karena pemimpin berarti memiliki kekuasaan. Namun harus kita akui bahwa besarnya pengaruh ataupun kuasa kuasa seorang pemimpin tidak bisa menjamin bahwa ia akan aman dan nyaman.
Karena itu, dalam setiap kepemimpinan baik sebagai presiden ataupun raja, selalu ada upaya yang dilakukan menjaga dan melindunginya, dengan tujuan agar ia tetap terlindungi dari bahaya yang sewaktu-waktu mengancam. Meskipun demikian, masih banyak terjadi seorang presiden, raja, bos perusahaan atau juga seorang panglima perang yang tewas terbunuh oleh musuh.
Ini juga suatu peringatan bagi kita yang dalam hidupnya selalu bergantung dan mengandalkan kekayaan, kedudukan dan kekuasaan. Katrena jika maut akan merengut nyawanya, tak ada yang bias menghindarinya. Dapat disimpulkan bahwa kekuatan, kekayaan, kekuasaan dan keperkasaan seseorang tidak dapat menjamin keselamatan jiwanya, seperti dikatakan "Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan." (ayat 17). Tenaga sekuat apa pun dan senjata secanggih apa pun yang kita miliki, jika kita tidak mempunyai hati yang takut akan Tuhan, semuanya sia-sia.
Saudaraku yang terkasih,  takut akan Tuhan adalah syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan, terutama keselamatan jiwa dan kehidupan kekal, karena "Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan." (ayat 18-19). Tuhanlah yang senantiasa menjadi penolong dan perisai bagi orang-orang yang takut kepadaNya; Dia selalu punya cara yang ajaib untuk menolong dan melindungi kita dari berbagai macam ancaman dan marabahaya.

READ MORE - PENOLONG DAN PERISAI KITA


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

Bapa Tahu Dimana Anda Berada




Apakah anda percaya bahwa Bapa tidak hanya mengasihi anda, tetapi tahu dimana anda berada dan apa yang anda sedang lakukan setiap menit? Saya sungguh percaya setelah pengalaman yang sangat menakjubkan yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu saya sedang berkendaraan di jalan bebas hambatan 1-75 dekat Dayton, Ohio, bersama dengan isteri dan anak-anak saya. Kami keluar dari jalan bebas hambatan itu di sebuah tempat peristirahatan.

Isteri saya, Barbara, dan anak-anak pergi ke restoran. Saya tiba-tiba merasa butuh meregangkan kaki-kaki saya, sehingga saya menyuruh mereka pergi duluan dan saya katakan akan menyusul mereka kemudian. Saya membeli sekaleng minuman ringan, dan ketika saya sedang berjalan ke toko Dairy Queen, perasaan mengasihani diri sendiri mulai menyelimuti pikiran saya. Saya mengasihi Tuhan, tetapi saya merasa kering dan berbeban berat. Hati saya
kosong.

Tiba-tiba deringan tak sabar dari sebuah telpon umum terdekat mengembalikan kesadaran saya. Suara dering telpon itu berasal dari kotak telpon umum di sebuah pompa bensin di sudut jalan. Apakah tidak ada orang yang akan menjawab telpon itu? Suara berisik dari lalu lintas yang ramai ini pastilah menenggelamkan deringan telpon itu karena penjaga pompa bensin terusmengurus para pengendara yang ingin mengisi bahan bakar, tak sadar akan bunyi dering telpon tanpa henti itu.

“Mengapa tidak ada orang yang menjawab telpon itu?” tanya saya. Saya mulai berpikir. "Mungkin telpon itu penting. Bagaimana kalau telpon itu merupakan panggilan darurat?” Rasa ingin tahu mulai mengatasi ketidak-pedulian saya.

Saya melangkah masuk ke telpon umum itu dan mengangkat gagang telpon. “Halo?” kata saya ringan dan menyedot minuman saya.

Dari seberang sana terdengar suara operator yang berkata, “Ini telpon interlokal untuk Pak Ken Gaub.”

Mata saya terbelalak, dan saya hampir tersedak oleh es batu yang ada di mulut saya. Setelah menelan dengan susah payah, saya katakan, “Anda gila deh!” Kemudian karena saya menyadari bahwa saya seharusnya tak berkata begitu kepada seorang operator telpon, saya menambahkan, “Ini tak mungkin! Saya sedang berjalan-jalan, tak menunggu telpon dari siapapun, dan tadi tiba-tiba telpon umum ini berdering…”

“Apakah Pak Ken Gaub ada di sana?” operator telpon itu menyela.

“Ya, ia ada di sini.” Sambil memikirkan penjelasan yang masuk akal, saya was-was apakah ada kamera tersembunyi yang melacak keberadaan saya! Apakah saya sedang dikerjai dalam sebuah acara reality show? Masih kaget dan bingung, saya bertanya, “Bagaimana caranya anda menemukan saya di sini? Saya sedang berjalan-jalan, lalu telpon umum ini berdering, dan saya mengangkat panggilan telpon ini asal-asalan saja. Mungkinkah anda salah panggil?”

“Baiklah,” operator telpon itu bertanya, “apakah Pak Gaub ada di sana atau tidak?” “Ya, saya adalah Ken Gaub,” kata saya, setelah saya akhirnya yakin bahwa panggilan telpon ini sungguhan. Kemudian saya mendengar suara lain berkata, “Ya, itulah dia orangnya, operator. Itulah Ken Gaub.”

Saya mendengarkan seperti orang kebingungan pada suatu suara yang mengenalkan dirinya sendiri, “Saya adalah Millie dari Harrisburg, Pennsylvania. Anda tidak mengenal saya, Pak Gaub, tetapi saya sedang putus asa. Tolonglah saya.”

“Apa yang saya dapat bantu?”
Ia mulai menangis. Akhirnya ia dapat mengendalikan dirinya dan melanjutkan.

“Saya hampir saja bunuh diri, dan telah menulis surat terakhir saya, ketika saya mulai berdoa dan berkata kepada Tuhan bahwa saya sebenarnya tidak mau bunuh diri. Kemudian tiba-tiba saya ingat bahwa saya pernah melihat anda di televisi dan saya pikir seandainya saja saya dapat berbicara dengan anda, anda mungkin dapat menolong saya. Saya tahu bahwa hal itu mustahil karena saya tidak tahu bagaimana saya dapat menghubungi anda. Saya juga tidak tahu siapa yang dapat menolong saya untuk menghubungi anda. Kemudian beberapa angka datang ke pikiran saya, dan saya menuliskannya. Sampai titik ini wanita itu mulai menangis lagi, dan saya berdoa di dalam hati memohon hikmat Tuhan untuk menolongnya. Ia melanjutkan, “Saya melihat deretan angka itu dan berpikir, ‘Mungkinkah saya mendapat mukjizat dari Tuhan, dan Ia memberikan telpon Pak Ken’ Saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menelpon anda dengan menggunakan deretan angka itu. Saya tak habis mengerti bahwa sekarang saya sedang berbicara dengan Bapak. Apakah anda mempunyai kantor di Kalifornia?”

Saya menjawab, “Bu, saya tidak punya kantor di Kalifornia. Kantor saya di Yakima, Washington.”

Dengan terkejut dia bertanya, “Oh, ya? Lalu anda sekarang ada dimana?”

“Apakah anda tidak tahu?” jawab saya. “Kan anda yang menelpon saya duluan.”

Wanita itu menjelaskan, “Tetapi saya bahkan tidak tahu saya sedang menelpon kemana. Saya hanya meminta operator untuk menekan tombol telpon sesuai dengan deretan angka yang saya tulis di kertas ini.”

“Bu, mungkin anda tidak percaya, tetapi saya sekarang sedang berada di sebuah telpon umum di Dayton, Ohio!”

“Sungguh?” serunya. “Jadi, sedang apa anda sekarang?”

Saya menggodanya, “Yah, sekarang saya sedang menelpon anda. Saya sedang berada di sebuah tempat peristirahatan di jalan bebas hambatan menuju Dayton, Ohio. Telpon ini berdering ketika saya sedang berjalan-jalan, sehingga saya mengangkatnya.”

Karena saya tahu bahwa pertemuan ini mustahil terjadi tanpa pengaturan Tuhan, saya mulai mengonseling wanita itu. Setelah wanita itu menceritakan keputus-asaannya dan frustrasinya, hadirat Roh Kudus membanjiri kotak telpon umum itu dan memberi saya perkataan hikmat di luar kemampuan saya. Dalam waktu beberapa saat, akhirnya wanita itu mau menyerahkan dirinya kepada Tuhan dalam sebuah doa pertobatan dan bertemu dengan Pribadi yang akan
menuntunnya keluar dari situasinya yang buruk dan memulai hidup baru.

Saya berjalan keluar dari kotak telpon umum itu dengan perasaan merinding tentang kepedulian Bapa Sorgawi terhadap setiap anak-anak-Nya. Bagaimana mungkin hal ini merupakan suatu peristiwa kebetulan? Dengan semua telpon umum yang berjumlah jutaan dan kombinasi angka yang tak terhitung, hanya Bapa yang Mahatahu yang dapat menyebabkan wanita itu menghubungi kotak telpon umum itu dalam waktu yang tepat. Dengan melupakan minuman ringan saya dan sangat takjub dengan pengalaman ini, saya berjalan kembali menuju keluarga saya, sambil mengira-ngira apakah isteri saya akan mempercayai kisah saya. Mungkin saya sebaiknya tidak menceritakan hal ini, saya pikir, tetapi saya tak dapat menahannya. “Barbara, kamu pasti tidak percaya! Tuhan tahu dimana saya berada lho!”

Yeremia 33:3 *“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akanmemberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”*

[Ken Gaub- Yakima, Washington -- email from Keith Todd. Naskah bahasa
Inggeris dikirim oleh Ibu Suharti, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi
READ MORE - Bapa Tahu Dimana Anda Berada


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

Keajaiban Selalu Ada



Beberapa bulan yang lalu, mama terkena kanker tulang stadium 4b, yang artinya sudah stadium akhir dengan pemeriksaan melalui bone scan (nuklir) dan pemeriksaan darah menunjukkan adanya sel-sel ganas di luar ambang batas.

Scan berhasil menunjukkan 5 tempat hitam (yang menunjukkan bahwa sudah terkena kanker) yaitu di pinggul, lutut kanan, tulang punggung, bahu-tangan kanan, dan tulang tengkorak. Serta beberapa bagian lain yang mulai tampak abu-abu ke hitam. Sedangkan bagian lain yang belum menyebar, berwarna putih bersih.

Keluarga sudah membawa dia ke beberapa dokter ahli tulang, ahli patologi dan terutama khusus kanker tulang. Semua jawaban tetap sama, mengingat umurnya yang sudah hampir 75, dan karena tak ada gunanya juga di chemotherapy (karena akan terlalu menyakitkan untuk dia) maka keluarga disarankan untuk merawat dia di rumah saja. Percuma di rumah sakit, begitu mereka bilang.

Perkiraan mereka 1-3 bulan saja usianya (kalau dia bisa makan dengan normal) sisanya, tinggal menunggu koma.

Sedangkan, beberapa hari setelah vonis dokter itu, mama mulai menjerit2 kesakitan di tempat2 yang memang tampak hitam dalam scan. Dan sudah sulit sekali untuk makan! Bahkan minum juga. Karena kadang ia tidak mampu lagi menelan. Ini tidak heran kata dokter, mengingat penyebarannya sudah sampai tulang punggung dan tengkorak? Dokter hanya memberi morfin, karena memang kata mereka sakitnya tidak tertahankan.

Seorang teman kakak yang lebih muda, ternyata baru saja meninggal karena kanker tulang dan itu pun hanya terdapat di lutut kirinya. Ia berobat di Singapore, tanpa hasil malah semakin parah. Teman yang lain pun menyatakan bahwa orangtuanya setelah dibawa ke Amerika pun hanya diberikan morfin sebagai pain killer. Keluarga semakin bingung, sedangkan melihat penderitaanya pun rekan-rekan yang menengok pasti menangis. Apalagi kita, anak-anaknya?

Suatu kali, mama dalam jeritan kesakitannya minta dibaptis. Ia minta ijin pada satu kakak saya yang kebetulan sama beragama Kong HuChu dengan mama. (Yang lain sudah menjadi Kristen atau Katolik). Mama minta cepat-cepat di baptis karena dia sudah tidak tahan lagi dengan kesakitannya dan beliau juga bilang, takut waktunya sudah tidak ada lagi. Koko saya menangis. Dan akhirnya menyetujui.

Memang, beberapa waktu sebelumnya, mama pernah bilang ingin minta dibaptis secara katolik. Diakon datang, untuk menyakan, apakah ini keinginan sendiri atau terpaksa. Mama sudah menjawab, bukan.. Ia memang ingin dibaptis sendiri. Akhirnya besok paginya ia dibaptis (kira2 2,5 bulan dari sekarang). Pastor sekaligus memberikan sakramen perminyakan. Pada saat ia dibaptis pun sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak. Yang anehnya, 3 jam setelah dibaptis, ia bisa tiba-tiba bangun sendiri dan berteriak memanggil anak-anaknya. Namun setelah itu, ia kembali terkulai dan kondisinya semakin memburuk. (bergeser/bergerak sedikit saja ia sudah tidak mampu karena sakitnya!)

Keanehan lain, dua hari berturut2 setelah baptis, ia minta komuni. Padahal mama tidak pernah mengerti apa itu komuni! Setiap satu minggu sekali ada Diakon yang datang untuk memberikan komuni. Setelah 3-4 kali komuni, kondisi kesehatannya membaik. Ditandai dengan kemampuan nya untuk bergerak dan makan. Beliau juga sudah tidak lagi menjerit-menjerit kesakitan. Kami merasa heran, bahkan dokter yang memeriksanya pun berdecak kagum. Karena dengan demikian, mama sama sekali tanpa pengobatan. Segala selang infus untuk makanan yang tadinya ia pakai, sekarang tidak terpakai. Bahkan, sebelumnya kami sudah menyiapkan oksigen, karena mama sebelumnya sudah mulai sulit bernafas.

Kami heran, semua tak percaya. Dokter mengatakan, tak ada penjelasan logis atas semua ini. Kami sudah tak sabar untuk melihat hasil bone scan lagi mid-november ini (karena hanya boleh dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan) untuk mengetahui apa yang terjadi. Dua minggu yang lalu, seorang kerabat yang melihat kondisi mama membaik, dia menyatakan ketidak percayaannya. Ia minta maaf karena dengan mengatakan ini ia sudah menyinggung kami yang kristen/katolik, tapi ia berkata, tak percaya dengan yang namanya mujizat! Mujizat itu tidak ada, yang ada hanyalah mungkin, kesalahan diagnosa.

Koko saya yang beragama KongHuchu pun malah mendukung kita, bahwa tidak mungkin ada salah diagnosa. Ada bukti ilmiah tentang sakitnya dari bone scan dan test darah! Bahkan dia pun berpikir, ini keajaiban. Sampai mid november kemarin, kami tidak bisa berkata apa-apa. Karena sejak semula, anak-anaknya pun hanya berdoa dengan pasrah pada kehendak Tuhan dan mohon dengan kemurahan hatiNya, mama tidak menjerit-menjerit kesakitan lagi, itu pun sudah cukup. Tapi melihat beliau mulai berjalan lagi, bahkan mulai mau ke dapur memasak lagi, amazing!!

Hasil bone scan keluar. Dokter yang memeriksanya pun terperangah dan bertanya, obat apa yang kita berikan kepada mama. Karena seandainya di chemo pun, kondisi mama tidak mungkin sebaik dan secepat ini, mengingat usianya. Yesus yang luar biasa, menunujukkan kemuliaan-Nya. Saat kami bilang mama tidak diobati. Dokter tersebut (yang kebetulan beragama Muslim) berkata bahwa ini mustahil. Ini keajaiban. Karena scan menunujukkan, hitam di 5 tempat sebelumnya sekarang hanya tinggal 1, yaitu tinggal yang di tulang panggul!

Koko saya bertanya, selanjutnya pengobatan apa yang harus kita lakukan untuk beliau? Dokter cuma menjawab, “Ya tidak ada! Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan selama ini. Yang kalian lakukan hanya berdoa, kan? Jangan berhenti berdoa kalau begitu. Karena ini keajaiban!”

Tidak puas dengan pernyataan dokter ini, koko memeriksa hasil kepada dokter patologi lain. Dia pun menyatakan ketidak percayaannya dengan kagum. “Ini mujizat!” katanya. (rupanya ia katolik/kristen)

Baru koko saya pun percaya. This is miracle. Buat saya sendiri, ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Karena tadinya, cukup buat saya tidak melihat beliau menjerit-menjerit kesakitan, ternyata Yesus memberi lebih dari yang kami semua, anak-anaknya harapkan. Sebab sebelumnya kami semua sudah rela, menerima bahwa ia dipanggil Tuhan, daripada ia menahan kesakitan yang luar biasa. Kami pun mengerti, bahwa kami tidak berharap pada sesuatu yang muluk-muluk, tapi seandainya suatu saat mama dipanggil nanti, mama sudah digunakan Tuhan sebagai alat untuk menunjukkan, bahwa apa yang mustahil bagi manusia, tak ada yang mustahil bagi Dia.

Tak ada obat yang lebih kuasa dari pada Yesus, Anak Domba Allah itu sendiri. Saya merasa tidak baik untuk menyimpan kesaksian kemuliaan Tuhan ini untuk keluarga sendiri saja. Saya berharap, dengan Kemuliaan Tuhan ini, dapat menjadi inspirasi iman dan pengarapan buat semua orang yang saya kenal. Ada ucapan Rm Yohanes di bukunya yang amat saya sukai : Kesembuhan fisik hanyalah sarana, untuk menuju Tuhan, karena pada dasarnya setiap orang harus meninggal..

God Bless u all,
Ina

Rumah renungan blogspot.com
READ MORE - Keajaiban Selalu Ada


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

Luput Dari Kecelakaan Maut



Dalam perjalanan pulang ke Bandung setelah mendrop klien ke Cengkareng, roda mobil depan sebelah kiri Rudy yang memang sudah aus mulai berbunyi. Namun Rudy berpikir dengan kondisi bannya yang sudah seperti itu, mobilnya masih dapat dikendarai paling tidak sampai ke rumahnya di Bandung. Malam itu ruas jalan tol Cikampek, Rudy yang sedang mengendarai mobilnya seorang diri hendak menyalip sebuah bis yang ada di depannya. Karena ingin segera tiba di rumah, Rudy memacu kecepatan mobilnya dengan cukup tinggi, namun justru kecelakaan fatal yang terjadi.

"Waktu itu saya lihat mobil itu terbang di atas bis," kisah Iwan Setiawan, salah satu saksi mata dalam kejadian itu. Iwan pun langsung memberikan pertolongan pertama pada Rudy. Iwan melihat sosok tubuh Rudy yang sudah tergeletak di pinggir jalan. Kabar pun segera disampaikan kepada Yenni, istri Rudy melalui telepon genggam milik Rudy.

Yenny sangat terkejut mendengar kabar itu. Hal pertama yang dilakukan Yenni adalah menelepon kedua orang tua Rudy menyampaikan kabar kecelakaan yang menimpa Rudy. Kegemparan serta merta menghampiri keluarga mereka. Saat tiba di rumah sakit, mereka hanya dapat menyaksikan tubuh Rudy yang tergolek lemah di atas tempat tidur dengan badan yang dipenuhi noda darah.

"Ginjalnya tidak dapat berfungsi dengan baik lagi, terlihat dari kreatinin yang menumpuk di darahnya. Hal ini yang menyebabkan pasien koma. Kegagalan ginjal yang kronis seperti itu kemungkinan sebuhnya kecil kecuali jika diadakan pencangkokan ginjal," ujar Dr. Djewaladi, Msc menjelaskan kondisi cedera akibat kecelakaan mobil yang diderita Rudy.

Saat itu Yenni hanya bisa berserah kepada Tuhan. Yenni merasa kalau beban ini terlalu berat untuk dapat ia tanggung sendiri. Yenni pun hanya dapat berdoa menyerahkan Rudy ke dalam tangan Tuhan. Kalau memang Tuhan ingin mengambil Rudy, Yenni hanya meminta agar diberi kekuatan kepada dirinya dan kedua anaknya untuk dapat melalui semua hal ini.

Dukungan doa dari teman-teman Yenni membuat Yenni semakin yakin bahwa Tuhan akan menolong Rudy. Salah satu kelompok ibu-ibu yang datang mendoakan Rudy mengatakan kalau Tuhan sendiri yang akan memulihkan Rudy di atas tempat tidurnya, pulih seperti sediakala. Dan janji itu dipegang Yenni dengan teguh. Keyakinan Yenni akan kuasa doa menjadi penghiburan yang sangat besar bagi Yenni.

Dan memang Tuhan bukanlah Tuhan yang tinggal diam saat anak-anak-Nya berseru kepada-Nya. Tuhan menjawab doa Yenni. Dalam waktu kurang lebih satu minggu, kreatinin Rudy mulai turun sehingga menjadi 6 dan kemudian minggu kedua sudah turun menjadi sekitar 4. Ginjalnya pun sudah mulai membaik. Tuhan Yesus sangat baik sehingga pada hari yang ketiga puluh, Rudy mulai sadar dari komanya.

Melihat keadaan mobil Rudy, semua orang pasti menyangka pengemudinya meninggal dunia. Namun jika Rudy bisa tetap hidup sampai saat ini, semua hanya karena mukjizat Tuhan.

"Saya sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah berkenan menyembuhkan suami saya," kisah Yenni menutup kesaksiannya.

"Saya sekarang sudah sehat kembali, sudah kembali dapat berolah raga, dapat mengemudi kembali. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan," ujar Rudy menutup kesaksiannya.

(Kisah ini sudah ditayangkan 25 Februari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber kesaksian : Rudy Hendra Sujono
READ MORE - Luput Dari Kecelakaan Maut


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

Materi Melimpah Belum Tentu Menjamin Kebahagiaan




Satu kesaksian menarik kami sajikan kepada pembaca tentang BAGAIMANA MENYIKAPI KRISIS EKONOMI seperti yang dialami oleh mantan orang terkaya Rusia, GERMAN STERLIGOV yang dikisahkan dalam harian JAWA POS ,Selasa,6 Januari 2009.
Benarlah apa yang tertulis dalam Alkitab :

-Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. (Amsal 15: 16.)
-Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaan itu. (Lukas 12: 15.)
Selamat membaca semoga menjadi berkat dalam menghadapi masa yang sukar ini.

Gelimang harta dan nama besar tak mampu mengantarkan German Sterligov menjangkau kebahagiaan. Pria 42 tahun yang pernah menjadi salah satu orang superkaya di Rusia itu kini malah hidup di pinggir hutan bersama keluarganya.

“Saya sekarang jauh dari krisis financial global seperti melanda para superkaya lain,” ujar Sterligov pada Daily Mail. Dia mengaku tak sepeser pun uangnya raib ditelan bumi.

Mantan penantang Vladimir Putin untuk berebut Kremlin I itu lantas bercerita tentang kabar temannya yang teler akibat diterpa krisis. Salah satunya bos klub sepak bola Inggris Chelsea, Roman Abramovich, yang dikabarkan rugi besar GBP 3 miliar. Kolega miliarder Rusia lain, Oleg Deripaska diperkirakan rugi sekitar GBP 10 miliar. Sementara itu orang kaya lain , Alisher usmanov, salah seorang petinggi klub sepak bola Inggris, Arsenal disebut-sebut kehilangan duit sebesar GBP 7,6 miliar.

Sterligov tak pusing akibat krisis berkat keputusan ekstrim yang diambilnya empat tahun lalu, yang sempat membuat dia dituding gila oleh teman-temannya. Kala itu, Sterligov dan isterinya, Alyona Sterligova, 41, menjual mansion tingkat empat dengan 20 kamar di Rublyovka, Moskow. Dia juga melego sebuah penthaouse mewah yang menghadap langsung ke patung Liberty di New York, berikut dua kantor di London dan pustnya di Moskow. Juga, melelang semua properti kekayaan, saham-saham dan surat berharga lainnya.

Lego besar-besaran tersebut dilakukannya untuk membayar hutang yang menumpuk akibat dia kalah saat mengadu nasib ikut pencalonan presiden melawan Putin.

Uang yang tersisa dibawanya untuk berkelana di pinggiran hutan. Beserta seluruh keluarganya, Sterligov memulai hidup baru ala kadarnya, bertani dan beternak. Disinilah dia menghayati ulang makna filosofi: materi berlimpah belum tentu menjamin kebahagiaan.

Di pinggir hutan, sekitar 100 km arah barat laut Moskow, lelaki yang kini berusia 42 tahun itu mendirikan rumah sederhana ala petani abad 19 seperti yang tertuang dalam novel Leo Tolstoy. Novel yang berkisah seputar kehidupan pada masa Tsar Nicholas berkuasa.

Tinggal di sebuah rumah kayu, tanpa listrik, televisi, telepon, AC dan internet. Mereka pindah ketika Alyona sedang hamil besar. Sepuluh hari kemudian, anak kelima mereka, Mikhei, lahir. Sterligov ikut membantu persalinan isterinya.

“Siapa saya sekarang? Saya hanya petani biasa. Peternak ayam dan kalkun. Sekarang Putin tak perlu was-was lagi dengan saya,” katanya.

Untuk menyambung hidup, dia memelihara aneka hewan ternak, mulai ayam, angsa, kalkun, kambing, domba dan sapi. Disamping menanam sayuran, memerah susu sapi dan membuat kerajinan kayu. Sebuah kerajinan berupa bangku kayu dijual seharga GBP 120 (sekitar Rp. 1,9 juta) per buah. “Biasanya terjual dua bangku per minggu, lumayan untuk beli makanan, pakaian dan membayar guru les anak-anak.” katanya.

Meski tinggal di pinggir hutan, Sterligov tak lupa memberi pendidikan untuk anak-anaknya. Tapi tidak di sekolah. Sekolah-sekolah, kata dia, hanya mengajarkan anak-anak korupsi. Dia memilih mendatangkan guru privat ke rumah. Mengajarkan bahasa Rusia, Matematika dan Sejarah. Putri sulungnya, Pelageya yang kini berusia 18 tahun, kuliah di Moscow University jurusan sejarah.

Kehidupan itu berbalik 180 derajat dengan masa lalu Sterligov. Betapa tidak, dia termasuk satu dari sedikit superkaya di Rusia. Ketika masih sangat muda, 24 tahun, dia sudah mampu meraih segala yang diimpikan manusia. Harta melimpah dan nama besar.

Sterligov muda sukses bermain di pasar modal. Masa itu, dia telah berkantor di dua negara, satu di Battery Park dekat Wall Street, New York, dan lainnya di Curzon Street, London. Mempekerjakan sedikitnya 2.500 karyawan.

Sebagai konglomerat dengan harta menggunung, segala fasilitas kemewahan ada dalam genggamannya. Mansion, limousine mengkilat, jet pribadi, bahkan kapal pesiar.

Sumber: Jawa Pos
06 Januari 2009
READ MORE - Materi Melimpah Belum Tentu Menjamin Kebahagiaan


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

Mami Pulang di Malam NATAL



Aku sudah merasa bahwa hari-hari hidup Mami bakal tidak lama lagi. Sejak memasuki tahun 2006 rasanya Mami mulai kelihatan mundur kesehatannya. Tidak seperti biasanya yang selalu bergairah. Kebiasaan yang dilakukan setiap pagi setelah mandi ialah duduk di kursi meja makan lalu membaca Alkitab dan berdoa. Di dalam Buku Renungannya selalu ada catatan hari ulang tahun anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucunya pada lembar tepat pada hari renungan itu dibaca. Aku bersyukur bahwa aku mempunyai Mami yang setiap hari berdoa untuk keluarga besar kami.
Kerinduannya untuk ke gereja tetap ada, namun karena kondisi tubuhnya yang semakin lemah maka Mami terpaksa di rumah saja. Satu bulan sebelum Mami dipanggil pulang Tuhan, ia berkata ingin pergi ke Rumah Tuhan. Aku dan saudara-saudaraku bingung menerjemahkan arti Rumah Tuhan itu. Apakah itu berarti Mami ingin ke gereja atau suatu tanda bahwa sebentar lagi Mami mau meninggalkan kami semua. Dan lagi setiap kali selalu menyebut angka 3 (tiga) berulang-ulang: ” tiga…….tiga….tiga…..” Apa arti kata tiga itu ,ketika aku bertanya, Mami hanya tertawa kecil.
Mami selalu hadir dalam Persekutuan Lansia (Lanjut Usia) ketika masih sehat. Mendengar bahwa mami ingin ke Rumah Tuhan, maka kami, anak-anak meminta diadakan Natal di rumah Mami oleh teman-teman dari Persekutuan Lansia. Dan telah dilakukan pertengahan bulan Desember. Mami mendengar Firman Tuhan namun tidak seperti biasanya penuh dengan sukacita. Wajahnya seperti memendam sesuatu yang kami tidak tahu apakah Mami merasakan sakit tuanya atau Mami memang sedih.
Ibadah Natal dan Perayaan Natal di Gereja-gereja telah berlalu, hari itu aku diberitahu bahwa mami dibawa ke Rumah Sakit karena kondisinya buruk dan mulai tidak sadar. Tepat pada tanggal 28 Desember 2006, mami benar-benar telah menghadap Tuhan dengan damai sejahtera Kristus. Hanya semalam mami berada di Rumah sakit.
Kesaksian ini aku tulis untuk mengenang Mami dan kebaikan Tuhan yang luar biasa. Bahwa Tuhan Yesus memanggil Mami masih dalam suasana Natal dan kami – sebagian besar anak-anak, menantu dan cucu-cucunya – yang terlibat dalam kegiatan Natal di gereja masing-masing sudah selesai tugas-tugas kami. Puji Tuhan! Hari-hari perkabungan itu kami bersyukur kepada Tuhan karena hampir sebagian besar anak-anak, menantu dan cucu-cucu bisa berkumpul semuanya. Mami pulang ke Rumah Tuhan seperti Simeon yang berkata: ”Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Lukas 2:29-30)
Aku baru sadar bahwa yang dimaksud Mami dengan berkali-kali mengatakan angka tiga mungkin adalah tiga hari sebelum tahun itu berakhir , yaitu tanggal 28 Desember. Melalui kesaksian ini ada hal-hal yang indah ingin saya bagikan kepada pembaca.
Mendampingi orang lanjut usia apalagi orangtua sendiri dalam kondisi sakit, benar-benar dibutuhkan kesabaran tinggi. Jangan melayani dengan amarah atau ketidak senangan hati karena perasaan atau kondisi orang yang mendekati dipanggil pulang Tuhan adakalanya penuh dengan teka-teki, tetapi juga rewel dan ada semacam ketakutan untuk menghadapi semuanya itu.
Sebagai orang lanjut usia yang cinta Tuhan, aku banyak belajar bahwa di hari tua, kalau kita makin dekat dengan Tuhan, aku mengamati seakan-akan Mami tahu kapan waktunya Tuhan Yesus datang menjemput dirinya. Aku belajar juga bahwa tidak terlihat sedikitpun Mami berontak atau menyangkal Tuhan meskipun kondisi kesehatannya makin menurun. Juga kehadiran para hamba Tuhan dan teman-teman gereja yang menengoknya selalu disambut dengan baik. Berkali-kali meskipun sudah sulit bicara, bila ada orang datang menjenguk, Mami selalu memberi isyarat menyatukan tangan yang artinya minta untuk didoakan. Saat-saat terakhir aku mendengar dari saudara-saudaraku bagaimana Mami menyambut “kedatangan Tuhan Yesus” itu dengan pasrah persis seperti anak yang lari kepangkuan bapanya untuk mendapat belaian dan kasih sayang.
Kita semua akan menjadi tua. Dulu waktu aku masih bayi, orangtuaku merawat aku tanpa merasa lelah. Kalau aku sakit, rasanya orangtua juga ikut merasakan sakitku. Setelah orangtua menjadi sepuh, maka sekarang tiba gilirannya akulah yang merawatnya. Aku tidak merasa berbeban berat merawat orangtuaku sendiri. Setiap kali Mami rewel atau tidak senang hati karena permintaannya tidak kuturuti demi kesehatannya, dalam hati aku berkata: ”Mami, dulu Mami juga melarang aku, demi kebaikanku, sekarang aku juga melarang Mami demi kebaikan Mami, maafkan aku.” Setelah itu aku pun menangis sendiri karena ada suatu pertentangan batin di antara ingin memberi dan tidak memberi apa yang diinginkannya demi kebaikan.
Sampai hari ini aku tidak bisa melupakan ketekunan, kesetiaan dan kedisiplinan Mami yang setiap pagi setelah mandi selalu duduk menghadapi Kitab Suci untuk bersaat teduh dan berdoa. Baru setelah itu Mami mulai membaca surat kabar agar tidak ketinggalan informasi. Di hari Natal ini, aku mengenang dan makin menyadari bahwa umurku juga semakin tua. Natal bukan saja peringatan menyambut Kedatangan Tuhan Yesus. Natal juga mengingatkan bahwa Tuhan akan datang kembali untuk memanggil setiap orang secara pribadi atau Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya, yang kita semua tidak tahu kapan waktunya terjadi.
Semoga kesaksian ini memberkati semua orang yang membacanya.. Amin
Di kisahkan kembali oleh : Magdalena
READ MORE - Mami Pulang di Malam NATAL


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

Mama Mengasihimu, Jennifer



Saat saya berusia 19 tahun, saya diperkosa dengan ancaman pisau belati di Hollywood, California. Saya merasa kotor, bekas terpakai dan semua kebanggaan saya terhampas begitu saja. Memang kehamilan akibat dari pemerkosaan hanya kurang dari 1%, tetapi saya termasuk satu di antara yang sedikit tersebut.

Pada mulanya untuk beberapa waktu lamanya saya menyangkal, namun sementara tubuh saya mengalami perubahan, saya sadar bahwa saya tidak dapat menutupi kenyataan tersebut lebih lama lagi - saya hamil. Saya pikir pasti ada jalan keluar yang terbaik!

Saya baru saja menjalani wawancara untuk pekerjaan sebagai pramugari. Tetapi lebih daripada resiko dalam karir saya, pikiran saya tidak tahan untuk menanggung bayi dari orang yang memperkosa saya. Saat saudara perempuan saya menyebut hal aborsi, hal itu terdengar seperti solusi yang sempurna. Aborsi masih belum disahkan pada waktu itu, tetapi saudara perempuan saya mengatur persiapannya.

Saya menemui seorang laki-laki di Griffith Park, yang membawa saya dengan mata tertutup kain ke sebuah kantor dokter. Tetapi ternyata dokter sebut tidak mau melakukan aborsi karena saya menderita infeksi kerongkongan yang sedemikian buruk, bila infeksi tersebut menyerang rahim, saya bisa mati. Maka ia menyuruh saya pulang dan menghadapi kenyataan bahwa saya hamil, dan entah bagaimana saya bisa menjalaninya.

Kemudian saya menemukan seorang dokter yang sangat peduli yang membantu saya melihat bahwa setiap kehidupan itu berharga. Saya mulai merasakan kasih dan menerima anak saya, terlebih saat saya merasakan bayi saya bergerak. Saya merasa sukacita karena kehidupan yang baru di dalam diri saya dan nyaris lupa asal mulanya.

Saat saya akhirnya memberitahukan orang tua, ayah saya terkejut mengetahui saya hamil, apalagi dari seorang pemerkosa. Dokter keluarga membawa ayah saya berkenalan dengan Planned Parenthood (Keluarga Berencana), tempat saya mendapat informasi bahwa aborsi adalah "satu-satunya solusi." Mereka tidak menawarkan alternatif lain. Saya mempercayai mereka bahwa mimpi buruk saya akan berlalu, dan saya dapat meneruskan kehidupan saya sesudah aborsi seolah-olah "tak pernah terjadi apa-apa."

Orang tua saya menghubungi District Attorney (D.A. yaitu Pengacara Daerah) untuk memberi kesaksian tentang pemerkosaan sehingga saya dapat memperoleh aborsi sah. Saat D.A. menyetujuinya, saya sudah hamil 22 minggu, dan telah memutuskan bahwa saya sungguh ingin mempertahankan bayi saya. Namun saya merasakan tekanan yang hebat dari semua pihak, terutama untuk menyenangkan orang tua saya, sehingga akhirnya saya mengalah.

Saya tidak akan pernah melupakan hari saat orang tua saya meninggalkan saya di rumah sakit. Saya merasa sendiri, kosong dan terlupakan. Saya ingin melarikan diri, lari, tetapi disana tidak ada tempat atau orang untuk saya tuju. Hati saya tercabik, saya tahu bayi saya akan mati dan saya memperbolehkannya, namun demikian saya begitu takut menyusahkan hati orang tua saya. Dokter menyuruh saya berbaring tenang saat ia menembakkan larutan garam ke dalam perut saya. Saya berbaring disana berharap untuk mati. Saya pergi ke tempat bersalin, dan berkhayal bahwa saya akan melahirkan bayi yang hidup. Tak seorangpun mengatakan persalinan macam apa yang akan saya jalani. Selama 18 jam saya meronta-ronta sendirian saat kontraksi berlangsung. Kemudian, hanya dengan bantuan seorang perawat yang masih muda yang berdiri di sebelah saya, saya melahirkan bayi perempuan saya yang mungil ke dalam sebuah bejana sorong. Ia sudah terbentuk seluruhnya sempurna, tetapi ia tidak bergerak dan tenang.

Saya terguncang saat saya melihat kepada apa yang orang katakan kepada saya hanyalah segumpal daging. Pada saat itu saya rasa-rasanya sedang menunggu untuk melihat dia mulai menangis, masih berharap dia hidup. Saya merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun dan segera menyadari bahwa akibat aborsi terus berkelanjutan lama meskipun ingatan akan pemerkosaan telah berkurang. Untuk tiga tahun berikutnya saya mengalami depresi dan mimpi-mimpi buruk yang menakutkan. Saya bermimpi sedang melahirkan, tetapi kemudian orang-orang merampas bayi saya. Saya mendengar tangisannya dan memeriksa ke segala tempat, tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Saya hanya mendengar tangisannya bergema di kejauhan.

Saya menguburkannya dalam-dalam dan mengeraskan hati saya atas derita tersebut. Berlawanan dengan apa yang dikatakan orang selama ini, aborsi adalah hal yang jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada pemerkosaan itu sendiri. Pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang mengandung kekerasan yang menimpa saya, seorang korban yang tak berdosa. Sedangkan aborsi adalah pembunuhan yang mengandung kekerasan terhadap anak saya, dan saya adalah salah seorang pelakunya.

Saya berusaha untuk menipu diri saya sendiri bahwa saya mempunyai alasan yang baik untuk melakukan aborsi, bagaimanapun juga, saya telah diperkosa. Akan tetapi kenyataan itu sangat melukai saya saat mengingatnya, maka saya berusaha mengubur kenyataan tersebut. Kemudian saya menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki. Saat yang kecil berusia tiga bulan, suami saya dan saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kami. Kesembuhan banyak terjadi di banyak segi kehidupan saya, tetapi derita aborsi yang pernah saya lakukan masih menghantui kehidupan saya. Saya belum mau mengakui bahwa peristiwa itu sah mempengaruhi kehidupan saya. Meskipun saya telah memutuskan tidak akan pernah melakukan aborsi lagi, namun saya tidak dapat menyangkal bahwa orang-orang lain akan memilihnya. Tiap kali aborsi tersebut diucapkan, dalam diri saya terasa sakit. Saya tidak ingin mendengarnya.

Beberapa tahun kemudian saya didiagnosa menderita kanker tengkuk dan membutuhkan hysterectomy - ini menghancurkan impian saya selamanya untuk memperoleh bayi perempuan. Akhirnya Tuhan mengangkat beban berat yang tertanam dalam hati saya yang terluka. Ia mengangkat kepermukaan segala luka, derita dan duka cita atas kematian putri saya. Saya merasa bersalah dan menyadari luka dalam yang terjadi, memerlukan kesembuhan. Pada mulanya saya marah, marah karena saya membiarkan diri saya mengaborsi, dan berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum saya atas perbuatan tersebut. Sulit untuk menghadapi tanggung jawab saya sendiri dengan penuh keberanian.

Kenyataannya, sayalah yang memilih untuk menjalani aborsi. Kami sungguh menuai apa yang kami tabur. Namun saat saya mengakui dosa saya, Tuhan itu setia dan berkenan mengampuni dosa saya dan menjauhkannya sejauh timur dari
barat. Dia adalah Tuhan yang mengampuni, tetapi saya harus berjuang berat untuk dapat mengampuni diri sendiri. Beberapa tahun sebelum menderita kanker saya bermimpi mengadopsi anak perempuan bernama "Harapan". Allah mengingatkan saya akan mimpi ini setelah 'hysterectomy'. Saya percaya Dia sedang membuat janji dengan saya, yaitu janji atas seorang anak perempuan.

Lima tahun kemudian, sesuai janji Nya, "Harapan" datang ketengah keluarga kami saat ia berumur tiga minggu. Ia nyaris menjadi korban aborsi. Meski saya tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, saya berdoa untuknya setiap hari. Ia memberikan kehidupan pada anak perempuan saya, hadiah yang paling berharga. Dan ibunya memberikan bayinya lebih daripada itu, harapan untuk medapatkan keluarga yang mengasihi yang tidak bisa diberikannya. Pada mulanya saya ingin "Harapan" menggantikan putri saya yang hilang, tetapi segera saya sadar bahwa tak ada seorang anak pun yang dapat digantikan.

Tuhan mulai menyingkapkan segi-segi lain yang membutuhkan kesembuhan akibat aborsi. Kerusakan yang terjadi jauh lebih parah daripada yang orang pahami. Secara fisik, tentu saja, seorang bayi direnggut dari kandungan ibunya. Namun secara emosional, saya yakin sudah ada ikatan batin antara si ibu dan anak, seakan-akan ada bagian yang terrenggut dari jiwa saudara sendiri. Bagian dari dirimu juga sudah mati.

Kesedihan adalah proses penting yang saya jalani untuk mendapat kesembuhan dari trauma aborsi saya. Saya percaya bagian dari proses kesedihan itu seumpama mengidentifikasikan kehidupan si bayi kecil tersebut sebagai seorang individu, seperti memberi nama bayi saudara tersebut. Saya tidak akan lupa detik-detik ketika putri saya yang tak bernyawa terbaring di dekat saya, tetapi melalui anugerah kesembuhan dari Yesus, saya tahu bahwa saat ini ia berada di surga bersama-Nya, di dalam gendongan-Nya. Namun saya masih melewati waktu-waktu ketika saya menangis untuk Jennifer mungil saya yang tidak pernah diperkenankan tertawa atau menangis atau mendengar ombak lautan atau memanjat pohon dan merasakan sinar mentari pada wajahnya atau tahu air mata atau perjuangan dan sukacita kehidupan. Akhirnya saya menulis sepucuk surat untuk putri saya.

Jennifer sayang,
Mama tahu saat kau Mama kandung, meski Mama berusaha keras untuk mengabaikannya. Oleh karena engkau adalah hasil dari pemerkosaan, Mama merasa begitu kesepian dan bingung.

Pada mulanya Mama hanya ingin membinasakanmu. Tetapi saat Mama mulai merasakan gerakan-gerakanmu di dalam tubuh Mama, Mama mendapati diri Mama mau menerima keberadaanmu.

Kamu berumur 22 minggu saat ijin untuk aborsi sah Mama diberikan, padahal Mama telah memutuskan untuk menerima dirimu. Mama mulai semakin mengasihi dirimu, tetapi dibawah tekanan dari orang-orang disekitar Mama, Mama langsung setuju dengan aborsi.

Untuk bertahun-tahun sesudahnya tangismu menggema dalam mimpi-mimpi yang
tiada akhir sampai akhirnya kesembuhan terjadi. Lalu Mama menamai dirimu dan
membiarkan diri Mama merataap atas kematianmu. Mama juga menjadi korban sebagai akibat dari mengambil keputusan berdasarkan beberapa potong informasi yang salah. Bagian dalam diri Mama mati bersamamu.

Saat kau dari surga memandang kebawah, Mama tahu kau mengampuni Mama seperti halnya Mama telah belajar mengampuni diri Mama sendiri. Sekarang ini Mama menekankan kepada orang lain untuk membantu mereka yang telah berbuat kesalahan dalam aborsi, dan juga menolong orang-orang lain untuk tidak berbuat kesalahan seperti yang telah Mama buat. Kesembuhan hanya dapat datang melalui kasih Yesus yang berkuasa.

Sampai kita bertemu lagi, Jenniferku, Mama mengasihimu.

Oleh: Jackie Bakker

Kisah di atas (Jackie Bakker) diambil dan diterjemahkan dari majalah American Against Abortion. Oleh Pelayanan Traktat Nafiri Allah Terakhir. PO BOX 1380 Surabaya 60013.

Sumber : Rumah Renungan
READ MORE - Mama Mengasihimu, Jennifer


Kekasih TUHAN !!!
Jadilah Berkat, Dengan Membagikan Semua Artikel Ini
Kepada Teman-Teman Anda.
TUHAN YESUS Memberkati Kita Semua,
AMIN

wibiya widget

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis